Kamis, 04 Maret 2010

Dibalik Kesuksesan Ustadz Lihan

Jangan menilai buku dari sampulnya, jangan menilai orang dari penampilannya. Nasihat itu rasanya pas bila kita bersua dengan lelaki ini. Dengan tinggi 155 cm, perawakan kecil dan kurus, ekspresi wajah datar, serta cara berpakaian yang bersahaja, yang tidak mengenalnya tak akan menyangka bila ia seorang miliarder. Baru-baru ini, pria asal Martapura, Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan sapaan Ustadz Lihan ini menghebohkan kalangan pencinta perhiasan kelas atas karena aksinya membeli intan 200 karat yang diberi nama Puteri Malu senilai Rp 3 miliar dari pengusaha pendulang intan asal Martapura, H. Israniansyah.

“Saya terkenal gara-gara ini,” kata Lihan mengakui. Intan premium yang ditemukan pada 1 Januari 2008 dan dibeli sang udtadz pada 22 Januari itu konon belakangan ditawar seseorang seharga Rp 68 miliar.... See more

Salah sangka terhadap dirinya memang sering terjadi. Namun, putra tunggal pasangan H. Bahrie (alm.) dan Siti Aisyah (almh.) ini tak mau ambil pusing. Malah, ia mengaku kadang-kadang menikmati salah pengertian bahkan sikap underestimate orang-orang itu. Lihan menceritakan, suatu hari seseorang datang ke rumahnya, dan bertanya kepada satpam, ”Eh, satpam yang kemarin di sini yang HP (ponsel)-nya panjang ke mana ya?” Lalu, anak Lihan yang mendengar suara tamu itu berkata bahwa yang dibilang satpam itu tak lain abahnya (panggilan ayah bagi masyarakat Kal-Sel) alias Lihan sendiri.

Cerita lucu lainnya, ketika sedang asyik menyemprotkan air ke mobil, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara laki laki yang bertanya,”Maaf mas, bosnya ada?” Rupanya sang tamu menyangkanya sopir tuannya. Wajah sang tamu sampai merah menahan malu begitu Lihan menyebut bahwa bosnya ya dia sendiri. Lihan mengungkapkan, kebiasaannya memakai baju kaus dan sandal -- persis seperti ketika diwawancarai SWA di Hotel Crown, Gatot Subroto, Jakarta pagi itu -- kerap membuat orang terkecoh.

Kini, nama kelahiran Lianganggang, Kal-Sel, 9 Juli 1974, ini semakin naik daun karena belakangan ia mensponsori sejumlah acara akbar di Jakarta seperti Gebyar Merdeka 2008 pada 16 Agustus lalu dan Konser The Spirit of Ramadhan yang berlangsung pada Selasa, 9 September lalu, di Plenary Hall, JCC. Konser itu menampilkan sejumlah penyanyi top Ibu Kota, antara lain Bimbo, Gigi, Ungu, Opick dan Gita Gutawa. Dana yang ia keluarkan untuk mensponsori dua acara yang berdekatan itu tak tanggung-tanggung: Rp 3-5 miliar.

Bagi Lihan, kegiatan berderma dan sponsorship bukanlah hal baru. Ia memiliki jadwal berderma ke panti asuhan 6 bulan sekali. Ia pun selalu merayakan hari-hari besar Islam dan membantu kegiatan-kegiatan yang bernapaskan Islam di daerahnya. Contohnya, ia memberikan bantuan Rp 100 juta untuk pelaksanaan MTQ tingkat nasional yang berlangsung di Martapura baru-baru ini. Tak mengherankan, pemilik 7 perusahaan ini meraih HIPMI Award 2008 serta penghargaan dari Menteri Negara Pemuda & Olah Raga Adyaksa Dault karena dinilai sebagai pengusaha yang mempunyai kepedulian sosial tinggi.

“Dulu saya sangat getir menghadapi hidup, jadi saya berusaha keluar dari ketidakmampuan,” tutur sang ustadz membuka lembaran masa lalunya. ”Bagi saya, orang Islam harus berharta. Maka, saya tidak boleh sedih, saya mesti kerja keras.”

Suami Jumratul Adawiyah (30 tahun) ini menceritakan, sebelum meraih keberhasilan, ia hanyalah pengajar dan pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Hijrah di Martapura pada 1997-98. Gajinya ribuan rupiah per hari. Padahal, biaya transportasi saja Rp 2.200/hari, masih ditambah biaya makan-minum. Tak pelak, saat itu ia sering berutang. Pada 1998 itu, ia pernah mencoba usaha lain: makelar sepeda motor.

Pada tahun yang sama, ia mencoba peruntungan dengan bekerja pada seorang pengusaha pengumpul intan dari Jakarta. Tugasnya, mengumpulkan dan membeli intan sesuai dengan pesanan kalangan pendulang. Ia mesti mencari intan 3 karat ke atas sebanyak 15 batu dalam waktu dua tahun. Harga per potong (batu) intannya Rp 200-500 juta. Untuk dua tahun itu, ia dijanjikan komisi Rp 500 juta. Tahun 2000, bos asal Jakarta itu bangkrut dan melarikan diri, padahal komisi belum dibayarkan. “Saat itu saya tidak tahu Kota Jakarta,” katanya menjawab mengapa tak mengejarnya ke Ibu Kota. Akibat kejadian ini, Lihan memutuskan kembali ke ponpes dan menjadi guru lagi. Kali ini, gajinya relatif lebih bagus: Rp 150 ribu/bulan.

Pada 2001, Lihan mendapat pesanan dari kawan-kawan mantan bosnya. Mereka memintanya mencari intan, tapi modal pembeliannya dari Lihan sendiri. Ia pun mencari teman yang punya modal cukup untuk diajak kerja sama. Berkat kemampuannya meyakinkan orang, ada yang tertarik. Disepakati, pembagian keuntungan dalam kerja sama ini: 60% untuk Lihan dan sisanya buat sang mitra. Menurut Lihan, bagiannya lebih besar karena ia yang menjalankan bisnisnya. Siapa sangka, usaha ini sukses besar. Salah satu langkah spektakulernya, ”Saya pernah membeli intan seharga Rp 18 miliar pada 2005, lalu saya jual lagi Rp 24 miliar. Jadi, untungnya sekitar Rp 6 miliar,” ujarnya sambil menjelaskan, mitra usahanya itu hingga kini menjadi rekan bisnisnya.

Serta-merta kemakmuran pun mewarnai kehidupan Lihan. Namun, ia tak lantas mengandalkan hidupnya dari bisnis perdagangan intan. Sejumlah perusahaan didirikannya. Antara lain, PT Wawin Investment, berkantor di Lebak Bulus, Jakarta (2004); membidangi jasa manajemen investasi. Pada 2005, perusahaan ini berubah menjadi Tri Abadi Mandiri (TAM). Menurut M. Ridha Rizani, Kepala Cabang TAM di Banjarmasin, TAM ditujukan menjadi payung bagi usaha jual-beli intan. Lihan menyebutkan, TAM juga menjadi holding company bagi seluruh perusahaan di bawah Grup Lihan. Hingga saat ini, bisnis intan menjadi kontributor utama pendapatan kelompok usahanya.

Tak cukup di situ, pada 2007 Lihan meluncurkan PT Ira Visual Multimedia yang bergerak di TV kabel dengan merek Ira Vision. Investasi perusahaan yang 100% dimilikinya ini Rp 3-5 miliar. Merek ini diambil dari nama panggilan anak pertamanya, Nurraudhi Zahriah (10 tahun). Saat ini stasiun TV kabel yang memiliki 45 channel --dalam dan luar negeri -- telah memiliki jaringan di Banjarmasin, Yogyakarta, Solo, Semarang dan Salatiga.

Pada tahun yang sama, Lihan mendirikan PT Smart Karya Utama (SKU), pengimpor mesin digital printing, plus pengelola 30 gerai Smart2Print yang tersebar di seluruh Indonesia. ”Saya pertama kali investasi untuk bisnis ini sekitar Rp 500 juta,” ujarnya. Mesin-mesin digital printing ini didatangkan dari Cina. SKU termasuk perusahaan nomor dua yang diandalkan Grup dengan kontribusi 20%. Kini SKU memiliki kantor pemasaran di Shanghai, Cina. Ridha ditargetkan mengembangkan Smart2Print menjadi 100 gerai sampai akhir tahun ini. ”Yang mendaftar hingga saat ini sudah 40 investor,” katanya. Pengembangan gerai Smart2Print ini dengan cara bagi hasil 50:50.

Masih pada 2007, Lihan mendirikan PT Lima Mahakarya, importir kabel dan aksesori TV kabel dari Cina. Total investasinya Rp 2 miliar. Perusahaan ini juga andalan Lihan, yang kini memberi kontribusi ketiga terbesar bagi Grup, yakni 10%-20%.

Sang ustadz pun membidik sektor agrobisnis dengan mendirikan PT Lihan Jaya Semesta, yang memiliki perkebunan nilam di Lampung dengan areal 100 hektare. Pada 2008, perusahaan ini menggarap pula kebun kelapa sawit seluas 120 ha di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dengan fulus yang seperti tiada habisnya, Lihan terus berekspansi. Pada 2008 ini, Lihan mendirikan sejumlah perusahaan. Di bidang otomotif, ia membuka PT Lihan Jaya Sarana yang membidangi dealership sepeda motor TVS dengan investasi Rp 500 juta. Saat ini baru satu gerai penjualan yang ia punya, yakni di Banjar Baru, Jakarta Selatan. Yang cukup menarik, bersama pencipta dan penyanyi lagu rohani Opick, ia mendirikan PT Alhamdulillah. Ini adalah rumah produksi, perusahaan rekaman dan pembuat film. Rumah produksinya ini tengah menjajaki pembuatan film mengenai Sunan Kalijaga yang direncanakan bisa disutradarai sutradara yang lagi ngetop, Hanung Bramantyo. “Kami sedang riset, estimasi biayanya sekitar Rp 14 miliar.”

Perusahaan berikutnya, PT Rumputindo Maju Bersama, bergerak di perdagangan rumput laut, dengan gudang di Makassar. ”Perusahaan ini baru empat bulan lalu kami dirikan,” ucapnya semringah. Saat ini Rumputindo telah memiliki kontrak untuk menyediakan rumput laut sebanyak 1.000 ton per 6 bulan. Total investasi di bisnis ini Rp 2 miliar.... See more

Yang tak kalah menarik, baru-baru ini Grup Lihan menjalin kerja sama operasional dengan Merpati Airlines. Kerja sama ini melibatkan tiga pihak: Grup Lihan, Pemda Sampit (Kal-Teng) dan Merpati. Dengan kerja sama itu, Merpati akan beroperasi dengan satu pesawat F-100 untuk rute Banjarmasin-Jakarta (p.p.) dan Sampit-Banjarmasin (p.p.). Investasi Lihan untuk usaha ini Rp 28,6 miliar.

Meskipun di Kal-Sel banyak orang yang berbisnis pertambangan batu bara, Lihan tak tertarik menerjuninya. Alasannya cukup unik: ”Bisnis batu bara itu mengeruk kekayaan bumi, tapi tak peduli dengan bumi itu sendiri.” Ia menilai pertambangan batu bara hanya merusak alam.

Dalam konsep bisnisnya, Lihan tidak memikirkan untung-rugi dulu. Yang penting, ”Bagaimana supaya orang bisa bekerja dan mengurangi pengangguran.” Ia begitu cepat mengembangkan banyak bisnis bukan karena ngotot mencari peluang usaha, tapi lebih karena ketidaksengajaan. Kerap ia ditawari proposal untuk berbisnis. Ia hanya cukup mendengar dari yang bersangkutan, seperti apa bisnis yang dimaksud, lalu ia mengukur feeling-nya. ”Jika feeling saya baik dan ringan, saya akan teruskan,” ungkapnya. Nah, sampai detik ini, orang-orang yang dipilih sebagai kepercayaannya belum ada yang membohonginya.

Lihan mencontohkan bisnis TV kabel. Diakuinya, ia tak pernah tahu latar belakang orang yang membawa proposal. Setelah yang bersangkutan menjelaskan isi proposalnya, dan ia merasa cocok, maka uangnya pun ia berikan. “Tanda buktinya hanya kuitansi tanpa materai dan saya tidak ditinggalin KTP,” ujarnya. Namun, perasaannya mengatakan, orang ini bisa dipercaya. Ternyata, hingga detik ini usahanya lancar-lancar saja.

Lihan sering melakukan hal seperti itu dalam berbisnis. Pehobi berselancar di Internet ini acapkali berkomunikasi dengan berbagai kalangan di dunia maya, dan dari sini bisa terjadi deal bisnis. Kadang-kadang pertemuan dengan calon mitra usaha terjadi di tempat-tempat tak terduga, seperti di bandara. Ketika ia merasa cocok dan hatinya ringan, maka ia akan deal. Sebaliknya, jika ia merasa berat di hati, ia tak akan berbisnis dengan orang tersebut. “Yang paling susah saya tulari adalah feeling bahwa orang ini jujur atau tidak.”

Akan tetapi, ketika usahanya memasuki tahap yang kian serius, calon konglomerat muda ini mengirim tim audit yang akan memeriksa kinerja perusahaan tersebut. “Saya mengirim orang audit ini bukan untuk mengawasi tiap hari, tapi untuk periode-periode tertentu,” ujarnya sambil mengungkapkan, pengawasan tetap penting tanpa mengurangi kenyamanan pihak yang sudah dipercaya menjalankan usaha.

Yang jelas, kini ayah Arini Mayafauni (tiga tahun, anak ke-2) ini merasa bangga karena usahanya tersebar di berbagai kota: Banjarmasin, Balikpapan, Tarakan, Berau, Mataram, Madiun, Gresik, Pekalongan, Jember, Magetan, Samarinda, Surabaya, Malang, Solo, Yogya, Semarang, Bogor, Bandung dan Lampung. Yang mutakhir, ia tengah memproses berdirinya stasiun televisi baru bersama Ira Kusno, mantan presenter SCTV.

Darmawan Saputra, mitra usaha Lihan di bisnis intan, mengakui Lihan memang sosok istimewa. Darmawan melihat, dalam mengembangkan usaha, Lihan juga punya tujuan sosial. Contohnya, oleh pemiliknya, Intan Puteri Malu ditawarkan Rp 100 juta, tapi dibeli Lihan Rp 3 miliar. Toh, ia mencermati, Lihan sebenarnya punya ketajaman berbisnis sebelum melakukan transaksi ini. “Saya pikir ia melihat potensi intan ini akan lebih tinggi lagi. Selain itu, langkahnya itu memang diambil sebagai upaya marketing,” ujar kakak kelas Lihan di Ponpes Darul Hijrah itu. Buktinya, dengan pembelian spektakuler itu, namanya jadi dibicarakan banyak orang.

Lihan, yang tadinya juga ”cuma” guru mengaji bergaji ratusan ribu per bulan, kini telah bermimikri menjadi pengusaha besar sukses yang jadi buah bibir di Kal-Sel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar